Laman

Tampilkan postingan dengan label Narasi Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narasi Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Keluarga Pindah

Beruntung saya memiliki pekerjaan paruh waktu selain pekerjaan utama. Pekerjaan ini bisa dikerjakan di rumah, jadi walaupun seminggu harus bed rest, saya bisa menyelesaikan pekerjaan di atas tempat tidur. Seminggu setelah bisa makan makanan yang lebih bervariasi, seorang teman mengajak saya makan ketoprak favoritnya.


Saya belum pernah makan ketoprak, karena lahir dan besar di Jawa Timur, ketoprak adalah hal yang kami lihat, bukan dimakan. Tapi karena teman saya menjelaskan bahwa ketoprak adalah makanan yang ramah vegetarian, maka ketertarikan saya semakin menjadi-jadi.

Hari itu hari rabu, kami harus antri ditengah-tengah orang kantoran yang sedang makan siang. Beberapa orang dating dan pergi, sehingga kami harus berebut kursi. Beruntung pria di dekat tempat saya berdiri terlihat tergesa dan meninggalkan kursi. Percayalah, setelah sakit kemudian dalam proses penyembuhan harus berdiri dengan sepatu jinjit 5 centimeter, dunia menjadi hal yang kurang menyenangkan. Anak kecil seusia sepuluh tahun membersihkan meja. Setelah ketoprak dihidangkan saya tidak ingat apa-apa kecuali porsinya yang kelewat besar dan perut saya masih dalam proses penyesuaian jumlah makanan.
Tapi toh saya ketagihan ingin makan ketoprak lagi, bukan hanya karena vegetarian punya jenis makanan yang terbatas tapi beberpa varian makanan yang berbumbuh kacang memang enak dan menjadi favorit saya. Hari minggu yang lain, teman saya mengajak ke tempat yang sama, berharap hari ini perut sudah ekspan ukurannya.

Karena warung yang kami kunjungi berada di tengah kota, kami berbekal persiapan kecewa jika nanti harus antre. Warung ini hanya berupa rombong tak tetap di bibir trotoar, ada dua meja panjang, tiap meja ditemani delapan kursi, empat dikiri dan empat yang lain berhadapan di depannya. Penjualnya adalah seorang ibu-ibu dengan ibunya (anggap saja nenek karena sebenarnya tidak terlalu tua). Sewaktu-waktu ada lelaki tukang becak yang membantu mereka. Dari kontak bicara dan peran yang dilakukan, lelaki ini adalah istri dari nenek. Gadis 10 tahun yang membawa piring kotor dan membersihkan meja adalah anak dari ibu penjual dan masih ada satu lagi, adik perempuan yang umurnya mungkin 10 tahu.
Benar saja kami harus antre, tapi karena hari itu hari minggu ternyata antrinya lebih panjang daripada hari aktif.  Namun kedua perempuan dewasa penjual Ketoprak sangat cekatan, mereka tidak pernah berhenti, sesekali secara bergantian, mereka berhenti sejenak menuju pengunjung yang hanya 3 langkah dari rombong dan menawarkan minuman. Namun jika si kakek sedang tidak menarik becak, tugas menawarkan dan membuat menjadi perannya. Tapi kadang-kadang dia menghilang jika ada penumpang. Hanya adik perempuan yang tidak memiliki peran, hanya menemani kakaknya melakukan tugas, namun tidak pernah membawakan piring.

Jam 12 sudah kelebihan dan jumlah pengunjung semakin berkurang. Adik kecil merengek pada ibu mengatakan bahwa dia lapar. Dia minta beli mie untuk makan. Setelah bernegosiasi dengan nenek ahirnya ibu memberi uang dengan syarat bahwa sore nanti dia sudah tidak boleh jajan lagi. Ibu memberi uang lebih karena ibu minta dibelikan bakso. Pada saat itu, kami berdua dapat tempat duduk berhadapan langsung ke rombong.
Ketoprak sudah tersedia ketika adik dating membawa dua bungkusan. Awalnya saya mengirah yang dia maksud adalah mie ayam atau mie pangsit. Tapi ternyata hanya mie instan yang diremukkan dan dicampur bumbunya bahkan bungkusnya tetap bungkus mie instan tersebut. Adik memberikan bungkus satunya dengan minta maaf karena harga mie yang dia beli sekarang naik menjadi 2 ribu rupiah sehingga bakso yang tadi dibelipun jadi lebih sedikit.

Kami berdua  terus makan ketoprak sambil berbisik-bisik kadang menebak berapa harga mie instan diremas sebelumnya dan berapa untung yang didapat penjual setalah harganya naik 2 ribu rupiah, mengingat tingkat kesulitan mengolah makanan mie instan remas.

Selasa, 18 Desember 2012

Epilog di Bawah Awan

Taman Hidup pagi itu penuh embun. Tapi seperti embun yang nanti akan hilang dirundung siang, kami juga harus hilang dari Taman Hidup sebelum siang. Merobohkan tenda pagi ini dilakukan lebih rapi karena kami tak akan membagun tenda lagi, anehnya merapikan tenda kali ini juga dilakukan lebih cepat. Alasannya sama, kita tidak akan membangun tenda dalam perjalanan ke depan.

Pulang merupakan kalaedoskop dari seluruh perjalanan. Pulang mengingatkan saya tentang komitmen awal ketika mau berangkat. Tentang mewakili perjalanan ibu yang belum pernah beliau alami. Tentang janji untuk tidak menyerah di tengah jalan. Tapi badan terlalu letih, persediaan makan tinggal sedikit, sepertinya tinggal dan pura-pura menyerah bukan pilihan. Kecuali jika TIM SAR sangat canggih dan kita dijemput Helicopter.

Tapi pulang menjadi emosional. Menghadapi sistem urban, bekerja namun juga bertemu keluarga dan teman. Kalaupun suatu hari kami memutuskan untuk menjelajahi Argopuro lagi, semua yang kami alami tidak akan pernah bisa sama, bahkan mungkin anggota kami berbeda, bongkar pasang.

Saya hanya pamit naik gunung sebentar, tidak mungkin lama, karena peradaban dan evolusi membuat kami manusia kota tanpa bulu di tubuh, namun masih ingat dalam darah yang lewat, kita semua berasal dari hutan, memotong ekor dan berjanji untuk mempunyai idup yang lebih baik. Hari itu saya dapat rasakan terusir dari hutan.

Di bawah awan hidup lebih rumit, jika selama mendaki kami selalu mengeluh lelah, mungkin ini maksudnya adalah lelah fisik saja. Di bawah awan kami butuh komunitas yang lebih besar dan lebih kuat, kami butuh yang lebih jujur dan setia.

Hutan dalam perjalanan pulang berbeda dengan hutan saat berangkat. Udara lebih lembab, pohon-pohon besar dilumuti, jalan lebih terjal bahkan untuk melewati turunan kami harus jongkok, karena jangkauan tanah yang terlalu curam. Tidak mungkin kami tidak bergerak cepat. Semua sudah habis, bahkan untuk makan siang hanya tertinggal mie-instant. Air hanya diisi seadangya, dan istirahat hanya dijadwalkan 2 kali termasuk makan siang.

Kami melewati tempat yang sudah diberi nama dan namanya lebih mudah dihafal. Cemara 5, Hutan Cemara, Celah Bambu. Desa Hyang semakin dekat, tanah sudah lebih kering berganti debu. Vegetasi ditampakkan dengan bahan-bahan pangan dan tani, cemara, karet.

Semakin jauh kebawa, saya merasa pakaian saya semakin berasa, bukan pakaian fisik, tapi pakaian simbolik yang saya miliki. Latas belakang, budaya, kelas, seks, gender, agama, kepercayaan, kelas, pendidikan. Saya merunduk lagi, pada gunung yang saya pikir sudah saya takhlukkan, pada jalannan yang berat ternyata saya adalah siapa-siapa dengan semua atribut yang saya jalankan setiap hari di tengah modernisasi.

Kenyataan bahwa lebih mudah hidup di hutan mungkin karena kami hanya 5 hari hidup diatas awan. Bukan menakhlukkan gunnung yang terjadi, bahkan sebalikkan kami yang ditakhlukkan pesona Argopuro sampai mau-maunya mendaki menyebanginya.

Persediaan air habis,kami melihat petani lalu lalang, beberapa dengan motor membawa turun hasil taninya atau membawakan rumput untuk ternak. Semakin jauh kebawa, semakin banyak lagi yang kami temui, anak-anak berambut basah setelah mandi dari sungai berteriak meminta uang pada kami. Sepertinya atribut kota dan ransel paling dekat dengan uang bagi mereka yang masih dibawa 10 tahun, bukan tentang kami yang pergi ke sekolah dan bekerja.

Hyang.... kami sudah sampai di Hyang siang hari, waktu matahari ada di atas dan bayangan tubuh nyaris tidak ada.
Hyang, disinilah tempat kami akan mencari warung untuk makan siang.

Dan pikiran saya langsung teringat dengan jumlah e-mail yang kemungkinan masuk di Inbox.
Tapi itu bisa diundur, sinyal belum sepenuhnya lancar dan kami butuh penyesuaian diri dari gunung menuju kota.
Yang terpenting kami sudah sampai di Hyang.
Hyang...kata lain untuk Tuhan yang Utuh.
Terima kasih teman-teman atas Liburannya.
Tak akan lupa.



Jumat, 30 November 2012

Diatas Awan

Perjalanan dari Cikasur menuju Cisentor adalah perjalanan yang paling pendek, sangat pendek bahkan. Seingat saya, kami keluar dan masuk 5 kali hutan pinus dan 5 kali savana.
Cisentor adalah kaki dari puncak pegunungan Argopuro. Dari sini pendaki bisa menuju ke Puncak Argopuro tempat pemakaman Putri Rengganis. Kami tidak berencana menuju kesana karena perjalanan menanjak memakan waktu 3 jam naik kemudian 3 jam pula untuk turun. Ini berarti, akan menambah durasi dan mengurangi logistik. Munkin lain kesempatan kami akan menuju puncak. (Amin too, rek)

Di Cisentor, kami bertemu dengan 3 kawan dari Swapenka (Pecinta Alam Fakultas Sastra-Universitas Jember). Nenet, Odol dan Ajis. Senang sekali bertemu dengan bukan hanya orang tapi juga kelompok lain yang punya tujuan (secara harafiah "tujuan") yang sama. Mereka membangun tenda di dalam semacam pos kamling papan dari pohon, 100meter dari sungai. Kami -seperti biasa- membangun tenda di bibir sungai di samping pohon melintang setinggi pundak yang tumbang. Kami berbincang-bincang dan saling mengunjungi macam tetangga-tetanggaan di perumahan. Mereka juga akan turun dengan arah sama besok hari.

Keesokan harinya, kelompok Swapenka berangkat 30 menit lebih awal dari kami. Rencana perjalanan hari ini adalah menuju peradaban, desa di daerah Probolinggo, dengan istirahat sebentar di "Taman Hidup". Kami tidak akan pergi naik lagi kemanapun kecuali turun untuk pulang. Ini sudah diatas awan.

Perjalanan turun (baca=pulang) ternyata memang tidak pernah mudah. Kali ini otot perut yang diuji, karena sakit menahan jalan menurun. Di tengah jalan, kami bertemu lagi dengan teman Swapenka yang sedang istirahat.

Perjalanan memakan waktu diluar perkiraan, maka alih-alih kami mampir di Taman Hidup, kami justru menginap disini untuk istirahat, semoga besok bisa pulang ke peradaban dengan selamat dan energi yang cukup.

Taman Hidup di senja hari sangat dingin dan indah, kami, teman Swapenka dan satu kelompok dari Jawa Barat membuat tenda 200 meter dibalik semak-semak dari arah danau Taman Hidup.
 

Jumat, 28 September 2012

Argopuro (Menuju Cikasur)

Hari ini dimulai agak cepat. Tugas sudah dibagi dan pekerjaan harus selesai lebih awal. Ini sarapan pagi kami dengan menu masak sendiri setelah kemaren malam kami juga memasak sendiri. Kapten Grandong juga chef yang baik, dia satu-satunya dalam kelompok yang bisa menanak nasi dengan nilai sempurna. Memasak di pagi hari harus memenuhi standar gizi empat sehat lima sempurna, namun juga tidak bisa terlalu kompleks karena waktu yang harus dihemat. Segera pula tenda dirobohkandan carrier dirapikan. Perjalanan kali ini akan berat dan tetap menanjak.
Persiapan Berangkat ke Cikasur
 
Rencana Yongki dan Grandong adalah berjalan menuju alun-alun untuk

Rabu, 18 Juli 2012

Argopuro (Mata Air Pertama)

Perjalanan dimulai setelah kami berempat sarapan. Kebetulan ada warung nasi di dekat post keberangkatan pertama. Setelah berpamitan dengan dua orang penjaga, kami diberi surat ijin untuk berangkat.(surat ijin perkelompok wajib membayar kontribusi sebesar Rp 20.000).

Perjalan hari pertama kami ditemani oleh sinar matahari yang panas menyengat. Mungkin ini juga akibat dari doa kami yang meminta supaya hujan tudak turun karena akan mempersulit perjalanan. Tidak ada pohon rindang di kanan kiri perjalanan layaknya lagu "Naik-naik ke puncak gunung". Lanscape dihiasi dengan ladang penduduk dan kegiatan peradapan yang masih ramai. Jalan dibawah adalah cadas dan batu-batu besar sementara dikanan-kiri adalah jurang dan ladang penduduk. Penduduk selisih jalan di depan kami atau setelah meruput dari tanah yang lebih tinggi. Tanahnya bisa dilewati satu arah. Bila ada orang dari seberang atau sepeda motor akan lewat, maka kami harus bertepi.
Jalan bendungan
Untuk pengairan sawah dan sanitasi penduduk


Jalan dari kaki gunung ini cukup landai dan tidak terlalu menanjak. Namun jalannya lebih panjang dibandingakn jika melewati kaki gunung di Probolinggo. Jalan ini seumpama memanasan dan penyesuaian dari kehidupan yang adil dan beradap menuju kekehidupan yang adil tanpa peradapan. Semakin jauh kami melangkah semakin luas perkebunan penduduk, semakin sedikit rumah dan gunug, semakin kami tidak mengali tumbuhan disekitar.

Kami berhenti di salah satu rumah penduduk pasangan suami istri yang sudah tua, hidupnyapun hanya berdua tapi di gubuk mereka juga ada jendela. Sepasang petani tembakau yang hidupnya berpindah-pindah. Di depan gubugnya ada kandang kambing dan juga ada kucing hitam berbulu kelewat panjang (mungkin karena cuaca disana lebih dingin) milik mereka. Di seberang lain rumah ada sumber mata air, itu alasannya mengapa kami berhenti untuk mengisi ulang air dan beristirahat sambil bercengkerama dengan pasutri tersebut.
Rumah dengan kucing hitam.

Gubug sang pasutri hampir jadi gubug terahir karena setelahnya kami hanya menemui satu gubug yang kemungkinan ada orangnya dan banyak gubug kosong lain. Perjalanan ini adalah perjalanan yang sangat lambat, matahari jelas-jelas menyengat dan jalan perkebunan terkesan lama-lama membosankan karena panjang. Belum lagi waktu istirahat yang aneh yaitu berjalan 60 menit berbanding istirahat 15 menit. Pasport yang diucapkan adalah. "Sak rokokan yo?"

Perkebunan sudah habis. Matahari sedikit condong saya tidak tahu ke arah mana dan kami mulai kelaparan. Kami bertemu pencari 2 kayu dan istirahat lagi. Jalan di depan sudah mulai bercabang menyesatkan. Sayang kan tidak mungkin ada satupun jalan tersebut yang menuju minimarket atau restoran siap saji. Kami memutuskan untuk berjalan dengan jarak pendek satu sama lain, jika teman yang ada didepan tidak kelihatan batang pantatnya maka yang belakang berhak mengingatkan.
Huaaaam makan dulu. Lapar.

Matahari semakin miring dan kali ini saya tahu ke arah mana dan kami semakin banyak berhenti dan istirahat. Selama kelakar kami juga sudah mulai kering. Disaat lelah seperti ini kami selalu bertanya "mengapa kita harus susah-susah berlibur mendaki gunung?

Selasa, 17 Juli 2012

Argopuro (Dibawah Awan Sebelum Berangkat)

Dua hari sebelumnya, Wulan SMS saya pada pukul 2 dini hari. Dia menyatakan keinginan dan idenya untuk naik gunung lagi, namun kali ini dia ingin menaikkan tingkat tantangan. Kami berpesan singkat dan muncul ide akan naik Pegunugnan Argopuro.

Kaki Argopuro terletak 3 jam di satu sisi dan 3 jam pula untuk sisi yang lain. Pendek kata Pegunungan Argopuro memang melewati kota Jember tempat kami tinggal. Imbuhan Pe-an membuat kami harus berpikir matang, karena ini menjadi Pegunungan pertama yang saya dan Wulan lalui. Kata Pegunungan memang menunjukkan kami akan bertualang melewati gunung dalam bentuk yang jamak.
Angkot menuju Besuki. Tumben kita ada di kamera berempat.

Kami berempat sudah berada dalam perjalanan menuju kaki Pegunungan Argopuro lewat Baderan-Besuki rencananya dalam 5 hari kami akan sampai di kaki gunung satunya di Probolinggo. Perjalanan kami memang tunda satu hari karena masalah persiapan dan jumlah anggota yang terbatas.Biasanya kami berangkat dengan pasukan sekitar 7-8 orang.Perjalanan selama 5 hari juga membuat kami harus berhati-hati mempersiapkan diri secara fisik, mental dan logistik. Tiba-tiba saya teringgat cerita tentang ibu sebelum saya berangkat.

Dua hari sebelum berangkat, saya menyatakan rencana kepada ibu

Kamis, 08 Desember 2011

Percaya Diri

Teman saya Nuran dalam bukunya Alone Long Way From Home yang menyatakan bahwa "Backpacker bukan perkara uang. Backpaker adalah masalah pilihan". Seperti memilih makanan atau baju yang kita pakai. Saya harus mengalaminya sendiri untuk memahami apa yang dia maksud.
Taken by Crescent Luna
Diatas salah satu truk dalam perjalanan kami.
Spot: Gumitir. 
Saya, Wulan dan Ayun ketinggalan kereta menuju Banyuwangi Jumat pagi lalu. Kemudian kami pergi ke terminal menganti alat transportasi bus menjadi kereta api.
Namun entah karena andrenalin yang tinggi atau ingin membayar rasa kecewa, kami memutuskan untuk ikut berboncengan dengan truk.
Teknisnya adalah kami memberi tanda jempol melayang di udara bila ada truk yang lewat di depan kami. Kemudian jika ada truk yang berhenti, kami menyatakan tujuan dan menunggu persediaan sopir truk agar mau membonceng kami. Kemudian kami bisa ikut di hal tdalam truk sejauh kendaraan tersebut pergi ke tujuan yang sama dengan kami. Sejauh Jember-Banyuwangi, kami tidak hanya naik 1 kali truk bahkan kami juga naik 
mobil pick-up.
Lima atau dua tahun sebelumnya, kami tidak mungkin mau dan bisa melakukan hal tersebut karena kami tidak memilih dan terlebih lagi karena kami tidak punya kepercayaan. Ada prasangka, rasa malu, takut, dan tidak nyaman. Namun kali ini kami berusaha untuk percaya, bukan percaya kepada satu sama lain, bukan percaya kepada sopir trruk yang mengangkut kami, ukan percaya kepada truk yang kita naiki, tapi percaya pada kepercayaan kami, bahwa yang kami lakukan akan aman.
Percaya kepada diri bahwa pilihan yang kita pilih adalah kesadaran kita yang harus diciptakan dalam bentuk perbuatan. Percaya bahwa kepercayaan itu milik kita dan kita dapat wujudkan. Percaya bahwa semuanya aman dan terlindungi lalu kita akan mengalami sesuatu yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Saya bebas dan bertanggung jawab atas semua resikonya karena saya percaya.

Jumat, 16 September 2011

Jakarta Pertama

-->
Saya sedang menulis surat pengunduran diri dari kerja 15 hari setelah Lebaran. Memang saya sengaja mengambil tindakan setelah uang THR saya cair agar saya bisa belebaran dengan baju baru sama seperti orang-orang lain. Namun seorang teman mengajak saya mencari kerja di Jakarta lebih awal, saya langsung mengurungkan niat untuk berhenti dari kerja tanggal 15 namun memajukan keinginan saya.
Tepat 12 hari setelah Lebaran tiket ke Surabaya jalur kereta api sudah dipesan. Saya bangun pagi pergi ke stasiun betemu dengan teman. Di dalam kereta api ke Gubeg, kamu sempat mendengar kabar dari teman lain di Tulung Agung bahwa tiket kereta ekonomi ke Jakarta telah habis hingga 7 hari kedepan. Tentu saja kami langsung menelepon teman-teman yang ada di Surabaya untuk minta konfirmasi jadwal kereta api Surabaya-Jakarta. Seorang teman yang saya telepon berkata bahwa kereta ekonomi tidak mungkin bisa dilihat via internet, memesan tiketnyapun juga tidak mungkin bisa karena tiket harus dibeli di stasiun keberangkatan sebelum berangkat ke Jakarta. Saya memberi tahukan kepada teman bahwa tiketnya tidak mungkin habis karena tidak mungkin dipesan. Lagipula hari itu sudah seminggu paska Lebaran. Semua kantor di Jakarta pasti sudah aktif kerja.
Sesampainya di Gubeg, saya mendapat tugas keluar stasiun untuk memesan tiket ekonomi ke Jakarta dengan membawa tas teman saya yang paling berat, sementara teman akan tetap tinggal di kereta api untuk menjaga barang bawaan kami yang lain. Sesampai di depan loket, saya tidak perlu bertanya karena ada tulisan pengumuman besar yang memberi tahukan bahwa

“Tiket Kereta Api jurusan Jakarta habis sampai tanggal 20”

Langsung saja saya menelepon teman yang ada di atas kereta api. Saya harus kembali ke dalam kereta api untuk mencari strategi lain. Waktu saya memcoba masuk lewat peron yang berharga Rp 2.500, ada barisan panjang para penumpang lain. Cepat saja saya lari dengan tas yang berat menuju tempat keluar. Sambil melawan arus, saya dicegat Satpam yang menyuruh saya masuk lewat peron. Saya berdalih bahwa HP saya yang satu ketinggalan di teman saya di dalam (sambil tetap memegang HP yang lain di tangan kanan). Satpam tidak mau melepas saya lalu dia mennyakan tiket saya yang buru-buru tidak bisa ditunkjukkan karena dipegang oleh teman di dalam kereta api. Saya berdalih lagi. Kemudian Satpam sedikit melemah sambil memintah saya menunjukan kartu identitas. Betapa terkejutnya saya

Minggu, 17 Juli 2011

Bergerak dalam diam

Saya memutuskan tidur lebih malam, karena besok saya harus keluar kota jam 6 pagi. sebenarnya ini adalah keputusan yang diambil lebih karena saya belum berkemas daripada usaha mengakumulasi rasa kantuk agar bisa tidur sepanjang 4 jam perjalanan. Teman dekat saya tahu bahwa saya tidak bisa tidur (atau saya harus melihat teman saya tertidur sepanjang perjalanan)dalam perjalanan jauh bahkan saat 8 jam dalam kereta api eksekutif menuju Jogja.
Mungkin karena saya tipe penikmat visual yang mendapat sensasi-sensasi dari melihat sesuatu yang bergerak cepat, berwarna kuat serta kontras, dan berganti-ganti intensitas cahaya. Saya selalu menikmati tinggal di dalam kendaraan yang bergerak cepat sambil melihat apa saja yang sebetulnya tidak terlalu bergerak cepat di luar, namun tampak bergerak cepat karena kendaraan yang bergerak cepat. Hampir mirip dengan kata Lacan saat menjelaskan tentang hubungan intersubjektivitas, yaitu hubungan antara beberapa subjek, setelah objek berhasil mengobjekkan dirinya dan menjadi subjek. Lacan menganalogikan dengan peristiwa pemberhentian di kereta api. Kereta api yang kita naiki berhenti di stasiun karena harus menunggu kereta lain dari arah yang berlawanan. Setelah kereta datang, kereta itu ternyata berangkat lebih dulu. Kita akan menyangka bahwa kereta kita yang bergerak meninggalkan stasiun, sebelum ahirnya kereta lain habis meninggalkan realita bahwa kereta kita masih di stasiun dan belum bergerak.
Saya biasa menghubungakn banyak citra visual dengan cerita lain. Saya akan berpikir bahwa tempat sampah di kantor sudah rusak, 5 detik setelah saya melihat tong sampah besar di jalan yang lima detik kemudian akan digantikan dengan citra baru dan menghubungkan dengan cerita lain yang masih ada di dalam dunia saya. Begitu cepatnya pikiran –pikiran berubah dan pemberian makna dilakukan berulanng-ulang membuat saya jadi hidup (dalam arti tidak tidur).
Namun sepanjang perjalanan itu, hanya ada satu pikiran dominan. Dalam perjalanan keluar Jember, saya jadi ingat betapa nikmatnya waktu naik sepeda motor dengan teman. Dipukul angin, disiram hujan tanpa permisi, hampir dikecup tronton, ditilang dengan polisi setengah baya yang sudah mulai tambun, dan jatuh terpeleset kumpulan polisi tidur sebelum rel kereta api. Saya menikmati suasana perjalanan itu, bahkan dari sini, dari tempat saya duduk di dekat jendela mobil travel yang ber-AC(dingin).

Rabu, 26 Januari 2011

Bangunkan aku di bulan September

Untungnya saya masih punya satu jatah cuti untuk bulan September. Sengaja tidak saya ambil untuk keperluan mendadak, kebetulan pula keperluan mendadak tersebut terjadi di ahir bulan September. Sehari sebelumnya, temen saya dari Jakarta memberitahukan bahwa dia akan datang bersama temannya dari Belanda. Teman saya menawari ikut ke Bondowoso-Tanggul untuk mengangambil gambar. Maka saya memintah ijin ambil cuti ke Kepala Sekolah untuk ahir September. Terlalu sederhana kalau dibilang kebetulan.



Saya bersama teman saya Henri dari Jakarta, tamu dari Belanda dan Sigit si sopir pergi ke Bondowoso. Kami berempat membawa senjata masing-masing. Henri berbicara Bahasa Belanda dengan fasih kepada temu dari Belanda, namun Berbahasa Inggris ketika berbicara dengan saya dan tamu Belanda, dan berbicara Bahasa Indonesia kepada saya dan Sigit. Lariolaine berbicara Bahasa Inggris kepada saya dan Henri dan berbicara Bahasa Belanda dengan Henri. Sigit berbicara dalam Bahasa Indonesia dengan saya dan Henri, dan Berbicara Bahasa Jawa dengan saya. Sedangkan saya berbicara dalam Bahasa Inggris kepada Henri dan tamu Belanda, berbicara Bahasa Indonesia dengan Henri dan Sigit, dan berbicara dalam Bahasa Jawa dengan Sigit. Otomatis (jika kalian mau menggambar petanya) tamu Belanda dan Sigit tidak pernah berbicara sama sekali.
Sebelum sampai di pabrik gula Bondowoso, teman kami berhenti di kota Bondowoso untuk menggambil gambar Monumen Gerbang Maut. Dia bercerita pada saya (dalam versi Dutchman Keparat) bahwa kejadian Gerbong Maut murni kecelakaan. Pihak Belanda tidak pernah berencana untuk memasukkan banyak tahanan dalam gerbong kelewat kecil dengan jumlah penumpang kelewat tidak masuk akal. Dia menambahkan bahwa pihak-pihak yang terlibat, administrasi, bahkan masinis kereta tersebut diadili dan diproses secara hukum. Sementara dalam versi Indonesi saya (yang sengaja tidak saya ungkapkan pada tamu Belanda) secara logis para tahanan bukanlah tahanan criminal melainkan tahanan politik yang memiliki sifat umum pembangkang, berani, pantang menyerah, dan tidak takut mati. Tentu saja Belanda terintimidasi dengan para tahanan sehingga jalan terbaik yang bisa dilkukan untuk menjauhkan mereka adalah membuat lakon “Ketidaksengajaan” yang saya pribadi yakin