Laman

Tampilkan postingan dengan label Terapikata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terapikata. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

Kosa Kata Bukan Untuk Kita

Dalam bergaul sehari-hari, kosakata kadang dipilih untuk memudahkan mengartikan istilah panjang untuk mempersingkat komunikasi. Beberapa istilah digunakan karena penggunaannya lazim dan sudah dianggap mewakili makna yang merujuk pada satu ide yang dianggap seragam.Sama seperti sejarah, makna muncul karena ada pemenang dari pemberi makna. Jika tidak digunakan secara hati-hati, bisa jadi justru tidak tepat guna karena dapat mempersempit dan menimbulkan inferioritas pada golongan tertentu, atau bahkan karena sering digunakan sembarangan makna maknanya akan bias karena terlalu populer.

Kata "insomnia" misalnya yang mengacu pada Sleeping Disorder semacam penyakit tidak mempunyai rasa kantuk atau mempunyai kantuk namun tidak dapat tidur.  Para penderitanya bisa tidak tidur selama 3 hari penuh hingga kelelahan, kehilangan energi dan selera makan serta lelah. Kata "insomnia" sudah digunakan dalam berkomunikasi sehari-hari untuk hanya menyatakan sulit tidur dalam satu malam atau telat tidur dalam 3 jam. Kata "insomnia kemudian berganti makna dan dianggap sebagai olok-olok scientific belaka.

Kata seperti "autisme" juga memiliki penyempitan makna dan perluasan pengguna. Oleh sebab itu kata "autis" seharusnya tidak digunakan sembarangan karena dapat menyakiti beberapa kelompok.

Tidak hanya dalam hal penggguna dan kapan digunakan namun juga ada kuasa tak tampak (hidden power) yang ada di dalamnya. 3 kata/prase dibawah ini akan menunjukkan bagaimana bahasa dicipta dan ditransformasi serta dipelihara untuk kepentingan patriarki.

1. Morning-sick

Morning sick biasanya terjadi pada perempuan pada masa hamil semester pertama (1-3 bulan) yaitu rasa mual dan muntah-muntah. Nama morning sick populer digunakan setelah Perang Dunia II oleh para pekerja urban lelaki untuk mendeskripsikan keadaan istrinya sebelum mereka pergi ke kantor.

Rasa mual memang lazin dialamai pada hamil muda karena adanya pergantian hormonal pada tubuh calon ibu. Namun rasa mual ini tidak hanya terjadi pada pagi hari. Perempuan hamil muda juga memiliki noon-sick, afternoon-sick, evening-sick, night-sick hingga midnight-sick.

2. PMS (Pre-menstrual Syndrome)

Kata ini jarang digunakan oleh laki-laki namun sering diucapkan perempuan untuk menamai gejala sakit fisik dan tidak nyaman karena haid bulanan. Kata PMS dapat melazimkan ketikdakstabilan perempuan pada masa haid dan membuat perempuan sendiri seakan harus menerima ini sebagai hal yang tidak dapat diatasi sehingga meminta pemakluman dari orang lain.

3. Broken-Home (Omah Ajur)

Frasa ini bahkan dianggap sangat ilmiah dan sering digunakan dalam beberapa kajian ilmu untuk mendeskripsikan sebuah keluarga terutama anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berpisah karena bercerai. Frasa ini, kemudian, terasosiasikan menjadi sifat anak (biasanya diletakkan pada posisi korban) yang cenderung nakal, membangkang, anti-sosial, tidak ramah lingkungan bahkan tidak bisa terurai maupun didaur ulang.

Jika perceraian dianggap sebagai keputusan yang diambil untuk melanjutkan hidup, maka keluarga yang mengalami perpisahan dapat juga dimaknai sebagai keluarga yang tegas dalam bersikap. Sementara anak-anak yang mengalami atau hidup dengan orang tua bercerai dapat juga melanjutkan hidup dan belajar dari pengalaman kedua orang tuanya.


Frasa ini dilanggengkan dan sering dilontarkan untuk menakut-nakuti (terutama perempuan) agar keputusan perceraian tidak diambil dan kehidupan domestik yang mengiferior perempuan bisa terus dijalankan.


Frase Broken-Home lebih pantas digunakan untuk merujuk pada rumah yang secara literal hancur atau rusak. Bukan hanya berkemungkinan salah makna, frasa "Broken-home" seharusnya usdah tidak dipakai lagi seperti frasa "anak haram" walaupun anak tersebut belum mendapat sertifikasi halal dari MUI.


Kata/frase digunakan untuk merujuk pada makna tertentu sehingga menghasilkan komunikasi yang sederhana dan tidak rumit. Contoh kata/frase diatas dapat mengenalkan bagaimana bahasa dilangenggkan dan bagaimana pemberian makna dimenangkan oleh kuasa.

Selamat Melawan.

Kamis, 19 Januari 2012

Label. Makna Tak Henti.

Hari itu, teman saya menggungkapkan kegelisahan dan ketakutannya. Tidak bisa disalahkan,  dia berjuang di medan yang sangat berat dan menangani isu berat. Rumah Lina ada di NTB. Dia mengorganisir isu tentang seksualitas dan penangan jumlah penduduk (Sexuality and Population). Tidak mudah karena di tanah itu,  mayoritas penduduknya adalah Muslim konservatif, sementara Nita adalah Muslim yang liberal.

Mungkin saya harus hati-hati menyebut dia liberal, karena dia sendiri takut dilabeli liberal.
Tapi tahukah kau, Nit. Jangan pernah takut dengan label, karena kita sebenarnya lebih dari label itu (kata sahabat saya Lintang).


Kita adalah generasi campuran yang kehilangan pusat karena pusat kita tersebar dan plural dan ada di mana-mana (begitu kata kajian para posmoik macam. Label itu terinternalisasi dalam diri bukan hanya kulit sahaja.

Saya adalah feminis liberal.

Jumat, 13 Januari 2012

Mata Saya dan Pena (Tulisan Tamu Untuk Acacicu)


Tulisan dibawah adalah tulisan tamu dari saya untuk ACACICU. Tulisan serupa juga bisa ditemukan disana.

Logo kecilSaya tidak dibai’at dengan janji-janji duniawi maupun surgawi saat memilih menjadi blogger. Tapi blog Acacicu menjadi salah satu blog yang menginspirasi saya.


Sebenarnya kegemaran ini dimualai karena suka membaca. Namun, ternyata seperti katub paru-paru, membaca tidak akan pernah nikmat jika tidak menulis. Bagaikan mendengarkan tapi tidak pernah berpendapat atau berpendapat tapi tak punya kemampuan mendengar. 

Menulis menjadi kesadaran awal saya ambil bagian dari hidup. Untuk alasan itu,

Sabtu, 24 Desember 2011

Iman dan Agama


Suatu hari saya dan teman sedang berbincang tentang pernikahan berbeda agama. Teman saya adalah salah satu warga negara yang menikah dengan suami yang memiliki agama berbeda dengan agama yang dia peluk. Kami mengalami beberapa kendala selama perbincangan. Ahirnya saya pribadi sadar bahwa kendala tersebut adalah kendala yang biasa dialami oleh banyak orang yaitu ketidaktertiban penempatan terminologi atau istilah yang merujuk pada makna bahasa.
Beberapa kali teman saya menggunakan istilah “berbeda iman”,  “pernikahan beda iman”, atau “kami tak seiman” untuk menggambarkan hubungannya dengan suami. Sementara saya menggunakan istilah pernikahan “beda agama” dalam menggambarkan pasangan yang sebenarnya beda iman hanya tidak seagama saja.
Problematik bahasa semacam ini memang sering terjadi, bahkan media kita banyak melakukan kesalahan antara terminologi “Transsexual” dan “Transgender”. Tidak heran bahwa media dan masyarakat kita misleading (tersesat) dalam istilah tersebut karena membedakan diri yang biologis (sex) dan yang sosial (gender) saja mereka masih kebingungan.
Hal serupa sebenarnya juga terjadi dalam istilah “Iman” dan “Agama”. Seperti yang dikutip oleh Carl Marx bahwa agama adalah infrastrutur, karena agama dapat dimaterikan melalui ritus dan ritual-ritual yang dijalankan. Iman adalah suprasruktur yang tidak dapat dikenali melalui penggindraan namun adalah hasil dari pengindraan dan juga hasil dari infrastruktur (didapat melalui jalur ritus dan ritual).
Saya sengaja menggunakan istilah “beda agama” hanya karena saya percaya bahwa pemersatu dari dua orang berbeda agama adalah persamaan iman. Pasangan yang menikah berbeda agama belum tentu mereka memiliki iman yang berbeda.
Agama adalah nilai fundamental yang paling tinggi di negara ini, dengan menggunakan istilah yang tepat, kita bisa menganalisa bagaimana masyarakat di negara ini adalah manusia yang berani beragama namun takut beriman. Bahasa merupakan media komunikasi yang menuju pada satu makna. Melalui komunikasi linguis, manusia membangun peradapan dan pola pikir.Selamat tertib menggunakan bahasa.

Kamis, 08 Desember 2011

Percaya Diri

Teman saya Nuran dalam bukunya Alone Long Way From Home yang menyatakan bahwa "Backpacker bukan perkara uang. Backpaker adalah masalah pilihan". Seperti memilih makanan atau baju yang kita pakai. Saya harus mengalaminya sendiri untuk memahami apa yang dia maksud.
Taken by Crescent Luna
Diatas salah satu truk dalam perjalanan kami.
Spot: Gumitir. 
Saya, Wulan dan Ayun ketinggalan kereta menuju Banyuwangi Jumat pagi lalu. Kemudian kami pergi ke terminal menganti alat transportasi bus menjadi kereta api.
Namun entah karena andrenalin yang tinggi atau ingin membayar rasa kecewa, kami memutuskan untuk ikut berboncengan dengan truk.
Teknisnya adalah kami memberi tanda jempol melayang di udara bila ada truk yang lewat di depan kami. Kemudian jika ada truk yang berhenti, kami menyatakan tujuan dan menunggu persediaan sopir truk agar mau membonceng kami. Kemudian kami bisa ikut di hal tdalam truk sejauh kendaraan tersebut pergi ke tujuan yang sama dengan kami. Sejauh Jember-Banyuwangi, kami tidak hanya naik 1 kali truk bahkan kami juga naik 
mobil pick-up.
Lima atau dua tahun sebelumnya, kami tidak mungkin mau dan bisa melakukan hal tersebut karena kami tidak memilih dan terlebih lagi karena kami tidak punya kepercayaan. Ada prasangka, rasa malu, takut, dan tidak nyaman. Namun kali ini kami berusaha untuk percaya, bukan percaya kepada satu sama lain, bukan percaya kepada sopir trruk yang mengangkut kami, ukan percaya kepada truk yang kita naiki, tapi percaya pada kepercayaan kami, bahwa yang kami lakukan akan aman.
Percaya kepada diri bahwa pilihan yang kita pilih adalah kesadaran kita yang harus diciptakan dalam bentuk perbuatan. Percaya bahwa kepercayaan itu milik kita dan kita dapat wujudkan. Percaya bahwa semuanya aman dan terlindungi lalu kita akan mengalami sesuatu yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Saya bebas dan bertanggung jawab atas semua resikonya karena saya percaya.

Minggu, 02 Oktober 2011

Suatu Hari Nanti (Mungkin 5 Tahun Mendatang)

Suatu hari nanti, 5 tahun kemudian mungkin, semua akan membaik. Bukan karena semua sudah dilupakan, tetapi lebih karena semua secara alami sudah termaafkan, hanya jika lima tahun kemudian kita mampu mensyukuri semua yang telah dicapai dan dimiliki. Namun jika hari ini kau masih marah, marahlah kemudian berjanjilah agar dapat merubah amarah menjadi kuasa yang membuatmu bahagia.

Someday, probably on the next 5 years, all will be better. Not because it will have been already forgotten, but more because it will be naturally forgiven, only if the next 5 years we will have be able to appreciate our possessions and accomplishments.
Nevertheless, as if you are in outrages anger today, be angry and promise to yourself to transform the sense of angry into positive energy.
                                                                          2 Okt 2011